Tidak ada catatan pasti perjalanan panjang agama islam di kalimantan, kapan islam di sebarkan pertama kali dan oleh siapa namun bagi saya itu bukan masalah karena sudah pasti itu hanya masa lalu bahkan para penyebar islam pun bisa jadi adalah orang-orang yang tidak ingin namanya ada dalam catatan sejarah melainkan dalam catatan ilahi, namun saya akan menilisik peran penting para ulama yang ada di kalangan umat islam kalimantan, sejauh ini keberada'an islam di kalimantan tidak pernah menjadi sorotan nasional tidak banyak yang tahu bagai mana islam berkembang pesat, sejauh ini kita banyak membaca islam di indonesia di sebarkan oleh para wali songo atau sembilan wali yang pada kenyata'an nya indonesia yang di maksud adalah pulau jawa, sementara sumatra dan kalimantan seolah punya hikayat sendiri yang belum terekspost oleh orang banyak.
Tokoh penomenal dalam penyebaran islam di kalimantan dan juga rujukan ulama-ulama sesudahnya adalah syekh Muhammad Arsyad Albanjari bin abdullah bin abdurrasyid mindanau bin abdullah fhilipina, bermajhab syafi'i yang keras dari segi hukum fiqih, asy'ari wa maturudi dalam soal aqidah, dan alghazali dalam tashauf, hal itu terus berlanjut hingga murid dan anak cucu beliau sementara orang pribumi kalimantan asli adalah dari kalangan suku dayak pedalaman yang mempunyai keyakinan agama hindu keharingan, dari segi budaya juga sudah dapat di lihat akan sangat berbeda dengan penduduk jawa maka sudah pasti cara penyampaian nya pun akan berbeda, jika islam di pulau jawa di sebarkan dengan pendekatan budaya maka seperti tidak berlaku di kalimantan, islam di kalimantan justru lebih cendrung di sebarkan menggunakan pendekatan kedigjaya'an hal itu bisa kita lihat dari hikayat-hikayat rakyat di mana para tokoh masyarakat yang juga ulama panutan di masyarakat adalah mereka yang mempunyai ilmu kedigjaya'an semisal datu suban, datu sanggul atau bahkan konon katanya raja banjar pertama melakukan perjanjian damai dengan suku-suku dayak pedalaman dengan menyabung ayam atau beradu ayam jantan yang di berangi dengan ilmu kedigjaya'an, Raja banjar yang muslim saat itu menang sehingga terciptalah perjanjian damai bahkan hingga sekarang orang dayak pedalaman biasa memanggil orang-orang dayak muslim atau banjar dengan sebutaan dangsanak atau saudara karena itu memang perjanjiannya kalau bisa menang.
Penyebaran islam di kalimantan memang tidak di sebarkan dengan cepat butuh waktu berabad-abad lamanya bahkan hingga sekarang suku dayak pedalaman masih ada saja yang beragama kaharingan, jika di telisik lebih jauh islam kalimantan masuk berbarengan dengan masuknya sebuah budaya karena memang tidak ada catatan resmi apa dan bagai mana budaya dayak kuno pedalaman yang sesungguhnya bahkan tergolong mempunyai budaya primitif hingga entah kapan ada isu beredar dayak pemakan manusia yang lucunya juga sempat beredar di pulau sebarang, yang membedakan islam jawa dengan islam kalimantan adalah islam jawa harus berkolaborasi adat dan tradisi penduduk jawa yang memang sudah mempunyai budaya sendiri, sementara islam masuk ke kalimantan membawa budayanya sendiri yang sebagian terkontaminasi budaya jawa dan budaya timur tengah serta budaya malayu inilah cikal budaya banjar yang banyak di anut orang kalimantan bukan hanya kalimantan selatan, namun kalimantan tengah dan timur hingga wilayah malaysia seperti berau . Wajar jika kita temukan bahwa bahasa mayoritas penduduk kalimantan adalah bahasa malayu banjar, aroma budaya malayu sangat kental walau ada sidikit aroma budaya jawa serta timur tengah, kita perhatikan syekh muhammad arsyad sendiri misalnya bukan orang yang mempunyai silsilah keturunan jawa tapi cendrung malayu atau datu sanggul yang menurut hikayat adalah orang sumatra, saya sepakat jika misalnya ada yang bilang islam kalimantan mempunyai aroma budaya islam malayu seperti sumatra dan malaysia bukan islam yang terkontaminasi dengan tradisi jawa.
Penduduk pribumi yang maaf masih minim budaya itulah yang membuat islam lebih leluasa memciptakan budaya islam di tanah kalimantan, walau sebagian besar mengadopsi budaya malayu atau jawa serta timur tengah, contoh : syekh muhammad arsyad albanjari dalam pengembangan dakwah islam sudah di sertai dengan sejumlah kitab-kitab fiqih atau hukum pidana dan perdata secara islam sesuai majhab syafi'i dan ahlu sunnah wal jama'ah secara umum, hal tersebut di warisi oleh anak cucu beliau dan murid-murid beliau yang kemudian menyebar hampir kesuluruh kalimantan, hal tersebut sejatinya menciptakan curak islam tersendiri yang masih minim terkontaminasi dengan budaya lokal, pada perkembangan nya peran penting ulama dan kaum santri yang banyak menimba ilmu kepada ulama-ulama ahlu sunnah wal jama'ah di timur tengah sangat mempengaruhi sudut pandang muslim kalimantan, contoh saja di era syekh kasyful anwar pendiri pesantren Darus Salam Martapura banyak ulama-ulama yang menimba ilmu kepada ulama ahlu sunnah wal jama'ah yang ada di timur tengah terlebih khusus haramain [ Mekkah dan Madinah ] bahkan banyak di kalangan ulama tersebut yang bergelar muhaddist diyar atau ulama hadist, hanya yang menjadi catatan bahwa saat itu haramain belum di kuasai pemikiran wahabi masih murni ahlu sunnah wal jama'ah, bahkan di era modern kita mengenal sosok ulama kharismatik yang menjadi panutan muslim kalimantan atau guru besar muslim di kalimantan secara khusus yang setiap pengajian beliau di ikuti ratusan ribu murid-murid beliau dari penjuru kalimantan syekh muhammad zaini bin abdul ghani albanjari salah seorang murid syekh sayyid amiin quthbi almadani, ulama ahlu sunnah wal jama'ah madinah, hal ini justru semakin memperkokoh cara pandang umat islam yang ada di kalimantan di mana manhaj mayoritasnya adalah ahlu sunnah wal jama'ah tulen tanpa banyak terkontaminasi budaya lokal.
Tokoh penomenal dalam penyebaran islam di kalimantan dan juga rujukan ulama-ulama sesudahnya adalah syekh Muhammad Arsyad Albanjari bin abdullah bin abdurrasyid mindanau bin abdullah fhilipina, bermajhab syafi'i yang keras dari segi hukum fiqih, asy'ari wa maturudi dalam soal aqidah, dan alghazali dalam tashauf, hal itu terus berlanjut hingga murid dan anak cucu beliau sementara orang pribumi kalimantan asli adalah dari kalangan suku dayak pedalaman yang mempunyai keyakinan agama hindu keharingan, dari segi budaya juga sudah dapat di lihat akan sangat berbeda dengan penduduk jawa maka sudah pasti cara penyampaian nya pun akan berbeda, jika islam di pulau jawa di sebarkan dengan pendekatan budaya maka seperti tidak berlaku di kalimantan, islam di kalimantan justru lebih cendrung di sebarkan menggunakan pendekatan kedigjaya'an hal itu bisa kita lihat dari hikayat-hikayat rakyat di mana para tokoh masyarakat yang juga ulama panutan di masyarakat adalah mereka yang mempunyai ilmu kedigjaya'an semisal datu suban, datu sanggul atau bahkan konon katanya raja banjar pertama melakukan perjanjian damai dengan suku-suku dayak pedalaman dengan menyabung ayam atau beradu ayam jantan yang di berangi dengan ilmu kedigjaya'an, Raja banjar yang muslim saat itu menang sehingga terciptalah perjanjian damai bahkan hingga sekarang orang dayak pedalaman biasa memanggil orang-orang dayak muslim atau banjar dengan sebutaan dangsanak atau saudara karena itu memang perjanjiannya kalau bisa menang.
Penyebaran islam di kalimantan memang tidak di sebarkan dengan cepat butuh waktu berabad-abad lamanya bahkan hingga sekarang suku dayak pedalaman masih ada saja yang beragama kaharingan, jika di telisik lebih jauh islam kalimantan masuk berbarengan dengan masuknya sebuah budaya karena memang tidak ada catatan resmi apa dan bagai mana budaya dayak kuno pedalaman yang sesungguhnya bahkan tergolong mempunyai budaya primitif hingga entah kapan ada isu beredar dayak pemakan manusia yang lucunya juga sempat beredar di pulau sebarang, yang membedakan islam jawa dengan islam kalimantan adalah islam jawa harus berkolaborasi adat dan tradisi penduduk jawa yang memang sudah mempunyai budaya sendiri, sementara islam masuk ke kalimantan membawa budayanya sendiri yang sebagian terkontaminasi budaya jawa dan budaya timur tengah serta budaya malayu inilah cikal budaya banjar yang banyak di anut orang kalimantan bukan hanya kalimantan selatan, namun kalimantan tengah dan timur hingga wilayah malaysia seperti berau . Wajar jika kita temukan bahwa bahasa mayoritas penduduk kalimantan adalah bahasa malayu banjar, aroma budaya malayu sangat kental walau ada sidikit aroma budaya jawa serta timur tengah, kita perhatikan syekh muhammad arsyad sendiri misalnya bukan orang yang mempunyai silsilah keturunan jawa tapi cendrung malayu atau datu sanggul yang menurut hikayat adalah orang sumatra, saya sepakat jika misalnya ada yang bilang islam kalimantan mempunyai aroma budaya islam malayu seperti sumatra dan malaysia bukan islam yang terkontaminasi dengan tradisi jawa.
![]() |
| Nampak pengajian di sekumpul bershaf rapi seperti sholat berjama'ah di mesjid haramain |


Post a Comment