Sebelum saya bercerita banyak cerita/hikayat rakyat terkhusus dalam postingan ini saya mau memastikkan bahwa apa yang terdapat dalam sebuah hikayat rakyat adalah cerita yang secara turun menurun di ceritakan dari generasi kegenarasi kerakyatan di suatu daerah, jika pun dalam sebuah hikayat tersebut terdapat kesalahan pemahaman dan sesuatu yang mungkin di anggap kurang pas dengan nalar atau logika maka hendaknya kita sama memahami sama-sama, dan yang terpenting hikayat rakyat adalah bagian sebuah kebudaya'an lokal yang mengandung kearifan lokal masing-masing.

Siapa Datu Ulin ?


Nama beliau adalah Dulamat, dalam khasanah cerita rakyat banjar dulamat adalah salah satu tokoh yang terkenal di banjar terkhusus banjar pahuluan yakni sebuah masyarakat suku banjar yang tinggal di daerah hulu sungai banua lima[ Kandangan, Rantau, Barabai, Amuntai, Tabalong ], Datu ulin sendiri adalah salah satu tokoh dari masyarakat kota kandangan salah satu ibu kota kabupaten hulu sungai selatan yang sampai sekarang haul beliau serta jejak rekam beliau masih ada di kampung/desa ulin, sebuah desa yang ada di daerah kecamatan simpur kabupaten hulu sungai selatan.


Salah satu versi cerita yang menyebutkan kenapa beliau di kenal dengan sebutan ulin tidak terlepas dengan asal muasal kenapa desa ulin di sebut dengan desa ulin, Ulin sendiri adalah nama salah satu pohon yang khas tumbuh di kepulauan kalimantan pohon ini juga bisa di sebut dengan nama pohon besi, pohon dan kayu ini memang mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi jadi wajar kayu dari bahan pohon ini banyak di gunakan sebagai kontroksi bangun seperti rumah, jembatan dll, namun era sekarang keberada'an pohon ini termasuk langka oleh karena itu kayu ini termasuk kayu dengan nilai jual sangat tinggi.

Hikayat Datu Ulin


Konon katanya di sebuah desa/kampung pada jaman dahulu tumbuh sebuah pohon ulin yang besar dan tinggi, mungkin hal yang wajar terjadi jika kita melihat bagai mana hutan di daerah pegunungan meratus yang jarang tersentuh oleh tangan-tangan usil, termasuk di desa tersebut, walau sekarang ini kampung ulin sendiri sudah termasuk desa yang padat penduduk. Di pohon tersebut konon katanya di penuhi banyak lebah dan berbagai burung-burung termasuk salah satunya burung garuda/elang besar yang suka memangsa ternak-ternak warga setempat, hal tersebut sudah tentu sangat meresahkan masyarakat dan akhirnya di putuskan setelah musyawarah mufakat agar pohon tersebut di tebang.


Sesuai hari yang di sepakati, akhirnya penebangan pohon kayu besar itu pun di laksanakan, berbagai alat untuk menebang pun di persiapkan, dari kapak hingga parang bungkul [Alat potong khas masyarakat setempat] pun di gunakan namun tidak ada satu pun yang bisa menebang, justru kapak dan parang banyak yang pecah, hal tersebut di utarakan pada sesepuh kampung yakni dulamat, dulamat hanya memperhatikan pohon tersebut, terdengar suara burung tinjau yang sangat nyaring pada sa'at itu, " Cuit Cau ..." dulamat pun mengartikan dengan arti kuit lawan pisau [ cungkil dengan pisau ].

Mendengar itu dulamat pun langsung mencabut ganggaman beliau di pinggang nya, salah satu kebiasa'an orang kandangan sejak dahulu, bahkan sebagian hingga sekarang, adalah menancapkan pisau kecil di pinggang yang di sebut oleh orang kandangan dengan sebutan ganggaman, ganggaman adalah pisau kecil atau sejenisnya yang biasa bersipat tajam dan runcing untuk sebagai jaga-jaga diri atau keperluan lain. Lalu di cungkil lah pohon tersebut hingga akhirnya tumbang dan rubuh, masyarakat pun terkagum-kagum dan memberikan gelar kepada beliau dengan sebutan datu ulin, bahkan kampung tersebut pun di nama kan kampung ulin, sementara di bekas tebangan pohon ulin tersebut di bangun sebuah mesjid yang mana bahannya terbuat dari kayu ulin dari pohon yang di tebang tersebut, konon katanya mesjid ini adalah mesjid pertama di tanah banjar dan di sebut dengan mesjid lama, selain kampung ulin di daerah tersebut juga ada nama kampung yang di namakan pantai ulin, yang konon katanya daerah tersebut memang di penuhi ulin-ulin, walau sekarang jika anda berkunjung ke kampung ini mungkin tidak akan menemukan lagi ada pohon ulin tumbuh di sana, warga sekitar memang sering menemukan pohon ulin tumbang yang terkubur dengan tanah, biasa di manfaatkan untuk rumah atau di jual karena memang harganya yang sangat mahal apalagi jika pohon ulin tersebut sangat tua maka biasanya akan sangat keras sekali.

Kedigjaya'an Datu Ulin


Sebagai mana di sebut di atas bahwa datu ulin adalah salah satu tokoh yang di kenal sebagai yang sangat berjasa dengan penyebaran islam di tanah banjar, selain itu beliau juga di kenal sebagai tokoh yang mempunyai ilmu kedigjaya'an tingkat tinggi, selain ilmu gancang [ kuat ] beliau juga termasuk orang yang taguh [ kebal ] akan senjata tajam.

Datu ulin sendiri mempunyai tujuh saudara salah satu saudara beliau adalah datu duhat atau datu buasan dan datu mursal atau datu patang balimau, beliau juga masih saudara angkat dengan Raja Sukmadinata, Raja candi agung amuntai.

Di kampung ulin sendiri setiap tahun sejak jaman dahulu selalu di adakan acara selamatan jika menjelang masa tanam padi atau masa manaradak [ menyai benih ] , masyarakat setempat biasa menyemblih kambing jantan untuk di santap dalam acara selamatan tesebut, selain itu juga di sediakan bubur habang dan bubur putih, roti hambar dan roti manis dan juga kopi manis serta kopi pahit. Raja Sukmadinata sendiri kalau pengen ke kampung ulin biasa menginap di Rumah banjar [ Tibung ] sebelum melanjutkan ke kampung ulin.

Sebenarnya tidak ada catatan pasti tentang riwayat datu ulin, masyarkat sekitar [ setelah datu ulin meninggal ] tetap mengadakan acara tersebut, di sinilah barang-barang peninggalan beliau di perlihatkan, saya sendiri berasal dari ranah kampung ulin melalui garis ayah sementara dari garis ibu justru dari kampung gambir [ datu duhat ], biasanya ayah saya setiap tahun menghadiri acara keluarga besar datu ulin namun belakangan sudah jarang karena memang usia beliau sudah tua, jika saya menceritakan sumber dari almarhum kakek saya Abdul Majid bin Imran salah satu warga kampung amparaya, beliau memang sering menceritakan datu ulin memampunyi sejumlah ciri memakai lawung berwarna hitam dengan menyanggul butah [ sebuah wadah dari anyaman paikat ] dari segi fisik datu ulin mempunyai bulu dada yang lebat, secara mistik ada satu keyakinan yang turun menurun hingga sekarang di keluarga yakni burung garuda tersebut justru kemudian menjadi hewan piara'an datu ulin, yang sering mendatangi keturunan beliau kalau ada yang sakit atau istilah daerah kapidara'an.

Terlepas dari nilai-nilai msitik yang sering beredar di kalangan masyarakat seperti misteri balai amas, batu baranak dll yang pasti datu ulin banyak mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal, seperti
Dalam sebuah masyarakat jika tidak ada yang mau jadi orang bungul [ Bodoh ] atau mau mambungul [ mau di anggap bodoh ] di masyarakat, maka masyarkat tersebut akan kacau
Yang di maksud dengan mambungul [ di anggap bodoh ] adalah mau mengerjakan apa-apa yang tidak mau di kerjakan oleh orang-orang yang merasa pintar, dalam kehidupan sosial masyarakat banyak orang yang merasa pintar, semisal ada maslah selalu memberikan pendapat ini itu sebagai solosi namun tidak mau melakukan secara kongkrit, atau istilah banjar " pintar bapandir haja ", cuman bisa berbicara tapi nihil, karena itu harus ada orang yang mau mengerjakan secara kongkrit tanpa banyak bicara, mau mengorbankan apa yang di miliki nya, mau menjadi kambing hitam dari setiap masalah yang ada di sebuah masyarakat, yang mungkin itu tidak akan di lakukan oleh orang yang merasa pintar.

Banjar Masin... Oleh : Ahmad Syaukani