Seorang bayi mungkin adalah anugrah yang sangat menggembirakan, setidaknya begitulah yang aku alami saat bayi mungil lahir dari rahim istri ku tercinta yang sudah pasti dia adalah darah daging ku sendiri, betapa bahagia mendengar suara isak tangisannya saat pertama kali dia di lahir kan ke dunia, Apa yang kita rasa saat melihatnya lahir dengan selamat ?


 Hehe rasa malu juga menceritakan nya, betapa tidak saat tangisannya membahana air mata ku pun mengalir di sertai dengan isak yang hampir-hampir sendu tak terdengar, betapa pun perkasanya tubuh seorang lelaki atau betapa terkenalnya kalau seorang laki-laki itu paling pantang menangis justru air mata mengalir saat kebahagiaan datang sebagai anugrah, di irini doa ku panjatkan pada rab ... " terima kasih tuhan, atas anugrah mu " hanya rasa gembira yang melambung naik ke sisi rab, walau pun aku juga merasakan ini tanggung jawab ku bukan sekedar nyawa yang aku pertaruhkan tapi juga jiwa ku, di mana kelak karena dia aku bisa saja tergelincir ke lembah kenistaan tapi bisa saja karena dia ku dapati syurga yang haqiqi di sisi tuhan ku.

 " Allahu akbar " yah kata-kata itu yang jelas ku dengar dari ibu bidan yang menangi istri ku melahirkan, Betapa tidak minggu malam sekitar pukul 11 lewat sekian tanda-tanda akan melahirkan telah terlihat dan hal itu membuat ku panik juga, akhirnya memeriksakan kandungan ke tempat peraktik bidan terdekat menjadi pilihan, tapi dari hasil pemeriksaan justru tempat rahim masih terlalu tinggi bahkan nyaris tidak ada tanda pembukaan akan melahirkan, berbagai pertanyaan di hujani kepada ku dan istri ku dari ibu bidan yang menghasilkan keputusan bahwa saat itu belum waktunya melahirkan walau tanda-tanda lahiran sudah keluar. Saat di periksa ke dokter kandungan bagai mana hasilnya , apakah dokter ngebahas masalah tali pusar dll, begitulah pertanyaan ibu bidan yang seperti rada mencurigai sesuatu tapi tidak memberitahukan kepada kami, " kaga ada apa-apa bu , kata dokter semua baik-baik saja tinggal menunggu waktunya saja ".

Semalaman suntuk di tunggu justru tak ada perkembangan , sahabat ku sedikit mendesak ku untuk membawa ke rumah sakit pasca tanda lahir sudah dua malam memasuki hari kedua tepatnya senin, ku ajak istri tercinta memeriksakan kandungan ke tempat ibu bidan yang sama untuk mengetahui detak jantung janin yang di kandung istri ku dan hasilnya masih sama tidak ada tanda-tanda akan melahirkan , dengan detak jantung yang sngat kuat dari sijanin justru adik kecilnya makin agrisif tendang sana sini, rasa lega juga saat mendengarnya bahkan sepulang menuju rumah kami masih sempat membeli sedikit keperluan buat adik kecil.

Apa kata hamba belum tentu sama dengan apa kata tuhan, yang di kehendaki manusia belum tentu persis yang di inginkan kan tuhan pemberi kehidupan, justru sakit perut makin menjadi-jadi saat tiba di kediaman kami yang sederhana.
" Halloo bu , maaf bu mengganggu kayaknya udah dekat bu , soalnya sakit perutnya makin menjadi-jadi "
 " Apa bisa di bawa ke tempat praktik ibu ? " suara di sebrang sana menjawab penuh penasaran.
" maaf bu , kayaknya kaga bisa lagi "
" Oke , ibu yang ke sana " di iringi salam telpon di tutup dari ibu berumur 40an berdasarkan perkiraan ku.

Lima belas sampai dua puluh menit mungkin kami menunggu, sementara istri ku nampak makin kesakitan yang saat itu lagi di tenangkan oleh ibu ku serta kakak ipar ku yang jauh-jauh datang dari kota kecil ku di lahirkan,sore minggu sebelumnya.Nampak ibu bidan tergesak- gesak sambil menyiapkan segalanya,"Ada air hangat" pinta ibu bidan, sambil meminta ku mengambilkan kain yang ada di dekat ku.
Ku ambil kitab suci , tepatnya surah maryam ku buka dan ku baca di antara lirih suara seorang wanita yang bertaruh antara hidup dan mati yang tidak lain istriku sendiri,30 menit berlalu bukan waktu singkat buat seorang ayah yang menunggu bayi mungilnya, satu hal yang masih ku ingat wajah istri ku nampak sangat pucat menahan rasa sakit, mungkin kita para laki-laki tidak akan pernah merasakan sakit itu dan hanya bisa menatapnya tak berdaya karena itu pertarungan seorang bunda demi anak kita , karena itu sering-sering mengusap dan membelainya sambil mengucapkan terima kasih ... kita tidak akan pernah tahu penderitaan mereka demi kita dan demi generasi yang mereka berikan kepada kita.

Satu dua hentakkan dengan nafas tertahan " Allahu akbar " suara ibu bidan terdengar jelas di iringi dengan pekikan suara membahana seisi kamar saat itu, pantesan dari kemarin tidak turun-turun juga, kalau tubuh mungilnya di lilit tali pusar , leher, tangan bahkan perutnya hingga tali pusarnya terlihat penyek, begitulah penjelasan bu bidan yang menangani kelahiran putri tercinta Hamidah maysyifa,Banjarmasin 11 May 2015, air mata ku mengalir ... isak tangis ku tak mungkin ku tahan, allah punya cara sendiri memberikan kehidupan pada semua hambanya, saat dia sang pencipta menentukan takdirnya maka tidak akan ada yang sanggup menghalanginya ... lebih lima kali pemeriksaan USG dengan alat canggih oleh dokter spesialis di dua tempat berbeda saat mendekati hari lahirnya justru tidak menunukkan adanya tanda tali pusar yang melilit. " andai itu terlihat saat USG maka operasi sesar akan menjadi pilihan satu-satunya dari dokter " kata bu bidan menjelaskan pada kami tapi allah berkehendak lain , dia menginginkan putri ku lahir secara normal dari rahim bundanya.

Baik-baik yah sayang ... ayah bunda mu selalu menyayangi, sesuai nama mu Hamidah maysyifa maka ayah pingin kamu menjadi obat bagi semua penyakit dan penghapus semua lara dan duka , nama mu akan di puji oleh penduduk langit dan bumi sebagai hamba yang selalu mempermudah semua urusan orang lain, amiin 23 rajab bertepatan 11 may 2015 , Hamidah maysyifa